Selamat Jalan Kang Uyan Asmi

30 Mar 2010 In: Inohong Seni dan Budaya

Pagi-pagi baca berita di internet, salah satu seniman Sunda, pentolan grup lawak d’Bodor yaitu Yan Asmi telah meninggal dunia. Berikut petikan beritanya dari Pikiran Rakyat:

SUKABUMI, (PRLM).- Uyan Suryana bin Dodo Sukardi atau kerap disapa Kang Yan Asmi De’Bodor, Senin (29/3) meninggal dunia. Pelawak asal Sukabumi itu meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin, Senin (29/3) dini hari. Sebelum menghebuskan napas terakhirnya, Yas Asmi sempat dilarikan kerumah sakit, Minggu (28/3) karena penyakit liver yang diderita.

Dia sempat tidak sadarkan diri ketika dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Selain menderita liver, dia juga menderita vertigo. Karena penyakit yang dideritanya itu, salah seorang personel De’Bodor itu harus dirawat selama sebulan.

“Papa sempat dilarikan ke rumah sakit seusai Adzan Magrib dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tim dokter langsung menangani, kesehatannya yang terus menurun. Walaupun telah berusaha maksimal, Allah SWT berkehendak lain, Papa meninggalkan kami semua, Senin dini hari,” kata anak Yan Asmi, Para Adhi Darma, Senin (29/3). (A-162/A-120) ***

Saya beberapa kali bertemu dengan Kang Uyan, lalu sama-sama berada di jajaran pengurus Forum Komunikasi Media Tradisi Jawa Barat (FK-Metra Jabar). Selamat jalan Kang.., mugia Allah SWT nampi sagala amal ibadah Akang.

Keberlangsungan hidup berkesenian dewasa ini tidak terlepas dari peran kalangan akademisi, utamanya di perguruan tinggi seni. Perguruan tinggi seni menjalankan tugasnya sebagai wadah konservasi, pengembangan kreativitas seni, sekaligus menggali setiap kemungkinan yang membuatnya lebih kaya.

Salah satu tokoh yang tepat untuk diajak memperbincangkan tema ini adalah Fransiscus Xaverius Widaryanto. Menguasai tari dan gamelan Jawa, Mas Wid — begitu dia akrab disapa– kini dipercaya sebagai Sekretaris Forum Guru Besar dan Empu Seni. Forum ini merupakan think tank para pakar dan pelaku seni yang dipercaya memberikan masukan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dalam pengolahan kurikulum kesenian.

Akhir pekan lalu, “PR” mewawancarai dosen Kritik Tari dan Estetika Tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu. Berikut petikan wawancaranya:

Read the rest of this entry »

Keindahan itu tak seperti aslinya. Begitu paling tidak kalimat yang bisa menggambarkan kondisi karya seni di Jawa Barat (Jabar). Siapa sangka, di balik eksotisme penari jaipong, keharmonisan ketukan angklung, dan indahnya puisi Sunda, seniman di Jabar masih merintih. Apresiasi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan keindahan seni yang mereka berikan.

Menghargai seni bisa diartikan memberikan ruang yang layak bagi seni untuk terus dikaryakan dan diekspresikan. Jabar memiliki tiga ratus jenis kesenian. Faktanya, masyarakat –khususnya pemangku kepentingan di Jabar– belum semuanya terbuka dengan hal itu. Seni semakin dinilai sebagai hiburan an sich.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Herdiwan menilai, langkah-langkah yang ditempuh Pemerintah Jabar selama ini belum sepenuhnya menyentuh wilayah apresiasi. ”Pentas tari ke luar negeri memang ada, tetapi menurut saya itu orang yang mau berseni dengan dibayar. Seharusnya, APBD diberikan kepada pelaku seni yang mengembangkan seni karena kecintaan dan mereka kebanyakan berada di pelosok daerah,” tuturnya.

Read the rest of this entry »

Seperti pepatah ada gula ada semut, para pelaku teater oncor juga selalu berusaha mencari pusat-pusat keramaian. Semakin banyak penonton, semakin efektif upaya seniman memperkenalkan karya mereka. Tambahan lagi, semakin banyak pula saweran yang mungkin didapatkan. Oleh karena itu, pada zaman teater oncor alun-alun setiap wilayah di Provinsi Jawa Barat memegang peranan penting.

Berfungsi sebagai ruang publik, alun-alun memungkinkan rakyat menggelar berbagai ajang interaksi yang mampu mendatangkan banyak orang. Hal ini didukung letak alun-alun yang strategis. Di Indonesia, kebanyakan alun-alun terintegrasi dengan pusat-pusat pemerintahan dan keagamaan. Dari sinilah alun-alun berperan memudahkan seni pertunjukan tradisional berkembang.

Menurut budayawan Jakob Sumardjo, alun-alun merepresentasikan riwayat seni pertunjukan di masyarakat lama yang selalu dilangsungkan di ruang-ruang terbuka. Tak hanya di alun-alun, seni juga ditampilkan di halaman rumah, di sawah, di bibir pantai, atau di sumber mata air. “Hal ini sekaligus menandakan kedekatan manusia, ketika itu, dengan alam. Dulu, manusia dan alam harmonis. Berbeda dengan sekarang ketika manusia selalu ingin tampil di atas,” ucapnya.

Read the rest of this entry »

PENGERTIAN ihwal fungsi dan makna seni yang berubah-ubah dari masa ke masa, telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam memaknai ruang tempat kehadiran seni itu sendiri sebagai peristiwa. Ruang merupakan kesatuan dalam peristiwa kehadiran seni yang, dengan itu, menjelaskan pemaknaan serta fungsi seni dalam masyarakat. Hingga sejauh mana seni berperan dan bermakna bagi masyarakatnya, bisa diselisik dari ruang mana peristiwa seni itu hadir dan dihadirkan.

Bagi masyarakat primordial di Indonesia, seni hadir bersama peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi dalam masyarakatnya. Bersama berbagai upacara –sebutlah, seren taun, panen, ziarah leluhur, hajat laut, pesta pernikahan, dan kematian, atau sejumlah ritus religi–, seni di dalamnya hadir sebagai peristiwa komunal. Ia hadir dalam ruang bersama di tanah lapang hingga di pelataran rumah.

Di ruang bersama dalam berbagai peristiwa sosial semacam inilah seni tradisi dimengerti bukan sebagai ”seni” itu sendiri. Akan tetapi, bertautan langsung dengan konteks keperluan masyarakatnya. Oleh karena itu, umumnya, seni tradisi berlangsung dalam ruang terbuka (outdoor). Tentu saja, hal itu dengan mengecualikan seni-seni klasik milik para bangsawan di Jawa yang diadakan di keraton atau di pendopo kabupaten (dalem).

Read the rest of this entry »


  • 15 Seni dan Budaya Jabar Akan Dihakpatenkan
    JAWA Barat kaya akan seni, budaya, dan upacara adat, yang menjadi ciri khas sejak zaman dahulu. Dari 250 macam seni budaya maupun upacara adat yang ada, kira-kira 150 di antaranya masih aktif dan masih dipakai oleh warga Jabar. Semua kekayaan ... - #

Last Comment

  • christ: wah jadi prihatin yo sama menteri kit...
  • rudy: muhun eta oge sae' ...namung tidinya tarekahan deui ku urang...
  • adhelina pisca: gak boleh kecolongan lagii
  • adhelina pisca: jangan sampe Indonesia kecolongan lagii sm Malangsia !
  • cah ayu dr pekandangan: mi..........nie murid mi2,saya nax pkd .ouh.........y mi,say...
  • izmal: pupuhna ulahnu( eling-eling )wae nulain atuh ok.... kirim ka...
  • almas aprilana: upami bade meser karinding di mana nya?punten tiasa nyuhunke...
  • heri: alhamdulillah kami digarut juga melestarikan seni karinding
  • Eep: alaikum salam kang sule.... reueus dilongokan ku pupuhu bud...
  • Kang Sule (sukmasunda): Aeh.... Assalamu alaikum, Kang Ep....
  • Kang Sule (sukmasunda): Sok jadi kaliru atuda, Loh. Dipiwarang ngajurian ge sok jant...
  • herman: Saya kira bukan masalah sentuhan baru, sebab secara musikal ...
  • herman: Angklung yang datang ke Malaysia adalah dibawa oleh orang Ja...
  • asep muharam: sanagt disayangkan sekali, pemkab tasikmalaya kurang memperh...
  • kartika: kern and bagoez... tambah lagi yaw klo bs infona
  • uloh: Kumaha nya,..... sok sanaos sim kuring salah sawios pinunju...
  • Abdillah: Hebat pisan eta gagasan teh, sim kuring fanatik pisan kana k...
  • andicardian: Saya orang cineam. beberapawaktu yg lalu ada orang amerika y...
  • Yusup: Satu pisan pasanggiri Moka dieureunkeun, komo mun dieureunke...
  • benny: kasian bgt kang..... sama mojang jajaka bandung yang punya k...

No shows booked at the moment.