<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silokabudaya</title>
	<atom:link href="http://silokabudaya.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silokabudaya.com</link>
	<description>Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Aug 2010 09:16:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kelana Temani Tidur Panjang Sang Maestro</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=231</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=231#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 08:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[TOPENG kelana menemani tidur panjang Mimi Rasinah (80), maestro tari topeng dari Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, yang meninggal Sabtu siang lalu dan dimakamkan Minggu (8/8) pukul 9.00 WIB. Topeng dengan muka berwarna merah itu merupakan kesukaan almarhum selama kariernya sebagai penari topeng yang dikenal luas di dunia internasional. &#8220;Memenuhi amanat Mimi, kelana ini ikut dikuburkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TOPENG kelana menemani tidur panjang Mimi Rasinah (80), maestro tari topeng dari Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, yang meninggal Sabtu siang lalu dan dimakamkan Minggu (8/8) pukul 9.00 WIB.</p>
<p>Topeng dengan muka berwarna merah itu merupakan kesukaan almarhum selama kariernya sebagai penari topeng yang dikenal luas di dunia internasional.</p>
<p>&#8220;Memenuhi amanat Mimi, kelana ini ikut dikuburkan di pusaranya bersama seperangkat kosmetik yang selama ini dipakai Mimi untuk menghias wajah saat tampil di dalam ataupun luar negeri,&#8221; tutur Ade (25), cucu menantu Mimi Rasinah.</p>
<p>Setelah disemayamkan selama semalam, jenazah Mimi Rasinah akhirnya dikebumikan Minggu pukul 9.00 WIB. Antrean panjang mengikuti barisan pengusung keranda sang maestro tari topeng tersebut.</p>
<p><span id="more-231"></span>Tak hanya dari Indramayu, seniman dari Cirebon dan Bandung seperti Endo Suanda dan Toto Amsar (keduanya merupakan sahabat Mimi Rasinah), juga ikut melayat. Istri Bupati Indramayu Hj. Anna Sophana sempat pula melayat dan menyatakan duka cita. &#8220;Indramayu sangat kehilangan beliau,&#8221; tutur Anna.</p>
<p>Hanya sayang, rasa kehilangan itu tidak dibarengi para pejabat di Indramayu. Hingga pemakaman, tak ada satu pun pejabat setingkat kepala dinas dan camat yang hadir.</p>
<p>&#8220;Terkadang kita heran, Mimi Rasinah itu milik siapa. Selama ini yang lebih mengapresiasi justru orang dari luar. Saat Mimi Rasinah diklaim orang lain, pejabat di Indramayu marah. Tetapi ketika dia sakit, sampai meninggalnya, tak ada yang datang. Penghormatan yang ada tak sebesar kiprahnya yang luar biasa mengharumkan nama Indramayu,&#8221; tutur Acep Syahril, penyair dan budayawan yang ikut pemakaman.</p>
<p>Sikap kesatria</p>
<p>Sepanjang iring-iringan menuju tempat pemakaman umum di Pekandangan, topeng kelana ikut dibawa oleh seorang cucu Mimi Rasinah. Persis di depan keranda yang diangkat empat orang, kelana seperti menggambarkan bahwa Mimi Rasinah menunjukkan &#8220;kegagahannya&#8221; meskipun sudah meninggal dunia.</p>
<p>&#8220;Kelana ini melambangkan sosok kesatria. Mimi Rasinah memang luar biasa di atas panggung bila memainkan kelana. Meski perempuan, tapi dia selalu membawakan kelana dengan gagah dan anggun. Kenapa kelana ingin ikut dikuburkan, mungkin selain kesukaan Mimi, juga melambangkan sifat kesatria. Mimi memberi pesan kepada kita utuk meneladani sikap kesatria,&#8221; tutur Supali Kasim, budayawan yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu.</p>
<p>Mimi Rasinah menghembuskan nafas terakhir Sabtu sore pukul 14.30 WIB (7/8) lalu setelah sempat dirawat beberapa saat di rumah sakit umum daerah setempat. Maestro topeng itu meninggalkan putri tunggal, Waci (50), dan lima cucu.</p>
<p>Uniknya, beberapa hari sebelum menghembuskan napas terakhir, sang maestro ini sempat tampil di Bentara Budaya Jakarta dalam acara &#8220;Indramayu Dekat di Hati&#8221;. Mimi Rasinah membawakan tari panji rogo sukmo bersama cucu pewaris tari topengnya, Aerli (24).</p>
<p>Panji rogo sukmo yang juga berkisah tentang hilangnya sukma dari raga itu, ternyata merupakan tarian terakhirnya. &#8220;Selama menari, saya bergetar, seolah-olah ada pantulan tenaga dari setiap gerakan Mimi,&#8221; tutur Aerli. (Agung Nugroho/&#8221;PR&#8221;)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=231</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimi pun Menari Sampai Mati</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=229</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=229#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 23:49:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[“Mimi ingin menari sampai mati,” begitu Mimi Rasinah mengungkapkan keinginannya kepada “PR” kira-kira setahun lalu. Ketika itu, tubuhnya yang renta sudah sering sakit-sakitan. Satu-satunya keinginan sang maestro topeng Indramayu dalam menghadapi usianya yang makin senja adalah mengakhiri hidupnya dengan menari. Tiga hari yang lalu, siapa sangka keinginannya terkabulkan. Mimi Rasinah mengakhiri hidupnya setelah menari dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2036" class="wp-caption alignnone" style="width: 334px"><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/08/mimi-rasinah.jpg"><img class="size-full wp-image-2036   " title="Mimi Rasinah" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/08/mimi-rasinah.jpg" alt="Mimi Rasinah" width="324" height="243" /></a><p class="wp-caption-text">blesak.wordpress.com</p></div>
<p>“Mimi ingin menari sampai mati,” begitu Mimi Rasinah mengungkapkan keinginannya kepada “PR” kira-kira setahun lalu. Ketika itu, tubuhnya yang renta sudah sering sakit-sakitan. Satu-satunya keinginan sang maestro topeng Indramayu dalam menghadapi usianya yang makin senja adalah mengakhiri hidupnya dengan menari.</p>
<p>Tiga hari yang lalu, siapa sangka keinginannya terkabulkan. Mimi Rasinah mengakhiri hidupnya setelah menari dalam suatu pergelaran nasional di Bentara Budaya Jakarta. Panji Rogo Sukmo, demikian tajuk dari tari topeng yang dibawakan Mimi Rasinah pada acara “Indramayu Dekat di Hati”, 4 Agustus 2010 yang lalu, menjadi tarian terakhirnya, sekaligus sebagai salam perpisahan.</p>
<p>“Seperti sudah terasa, di Bentara Budaya, Mimi sangat bersemangat untuk menari. Sejak sakit-sakitan, Mimi sudah absen empat tahun lebih. Rupanya, Panji Rogo Sukmo merupakan tarian terakhirnya,” tutur Ade (25), suami Aerli (24) cucu Mimi Rasinah.</p>
<p>Dari judulnya saja, Rogo Sukmo merupakan tarian yang berhubungan dengan kematian. Rupanya, melalui Panji Rogo Sukmo, Mimi Rasinah tengah melakukan ritus diam-diam melepaskan sukmanya sebagai maestro tari topeng asal Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Mimi mewariskan tariannya itu kepada sang cucu, Aerli, yang pada saat pembukaan acara tersebut tampil bareng dengan nenek tercintanya.</p>
<p>Ya, Panji Rogo Sukmo, rupanya merupakan upaya Mimi Rasinah menunaikan apa yang menjadi keinginannya yakni menari (topeng) sampai mati.</p>
<p><span id="more-229"></span>Sabtu (7/8) siang pukul 14.30 WIB, menjadi jawaban itu semua. Hanya selang dua hari setelah “melepaskan” sukmanya melalui tarian topeng Panji Rogo Sukmo, Mimi Rasinah mengembuskan napas terakhir.</p>
<p>Mimi Rasinah meninggal dunia Sabtu siang kemarin, pada usia ke-80. Mimi Rasinah yang sempat pentas keliling dunia, mengembuskan napas terakhir setelah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu.</p>
<p>Ade yang merupakan suami Aerli menjelaskan, sepulang dari pentas di Jakarta, Mimi Rasinah sempat mengeluh pegal-pegal. “Setelah pentas, malamnya langsung pulang ke Indramayu. Mimi sempat mengeluh pegal-pegal. Saya dan Aerli memijitnya. Keesokan hari, sudah normal seperti biasa. Hanya, Sabtu pagi tiba-tiba mengeluh perutnya sakit. Siang kami bawa ke rumah sakit, ternyata langsung meninggal dunia,” tutur Ade</p>
<p>Setelah dipastikan meninggal dunia, jenazah maestro kelahiran Pekandangan, Indramayu, 5 Mei 1930 itu, disemayamkan di sanggarnya yang berdampingan dengan rumahnya di Pekandangan. Rencananya, jenazah Mimi Rasinah akan dikebumikan di pemakaman umum di desanya di Pekandangan Minggu (8/8) pagi pukul 9.00 WIB. Mimi Rasinah meninggalkan seorang putri, Waci (50), dan lima cucu. Salah seorang cucunya, Aerli selama ini dipersiapkan Mimi Rasinah sebagai penggantinya.</p>
<p>Duka untuk Mimi</p>
<p>Tak hanya di Indramayu yang merasa kehilangan, para seniman di Cirebon juga mengaku kehilangan. Pada acara pemilihan Duta Tari Topeng di Cirebon yang diselenggarakan Cirebon Art and Culture dan dihadiri seniman se-Ciayumajakuning termasuk dari Bandung, dipimpin Pangeran Agus Djoni dari Keraton Kanoman, memanjatkan doa untuk menghormati Mimi Rasinah. “Kami sangat berduka. Mimi Rasinah meninggal dunia justru saat tari topeng kini tengah dibangkitkan kembali oleh para seniman di Cirebon dan Indramayu,” ujar Pangeran Djoni.</p>
<p>Selain pemilihan Duta Tari Topeng, pada Senin (9/8) malam, di Gedung Kesenian Kota Cirebon juga akan digelar lima pewaris topeng Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Salah satunya menampilkan cucu Mimi Rasinah, Aerli. “Pergelaran lima pewaris topeng ini menampilkan tarian para pewaris dari maestro topeng sebelumnya, termasuk Mimi Rasinah,” ucap Dadang Kusnandar, budayawan dan pengamat seni Cirebon.</p>
<p>Aerli yang menari bareng Mimi di Jakarta mengaku saat satu panggung dengan neneknya (Mimi Rasinah), tubuhnya sempat bergetar. Ia merasakan ada kekuatan lain yang terpantul dari gerakan tarian Mimi Rasinah. “Saya yang menari bareng sempat kaget. Penampilan terakhir Mimi sangat berbeda, saya merasakannya,” ujarnya.</p>
<p>Aerli mengaku dirinya tidak punya firasat. Hanya, beberapa hari sebelumnya, sempat menerima pesan dari Mimi Rasinah yang meminta agar kelak bila meninggal dunia, topeng kelana dan kosmetiknya juga ikut dikuburkan.</p>
<p>“Pesan terakhirnya, Mimi minta topeng kelana dan seperangkat kosmetik yang sering digunakan sebelum pentas agar ikut dikubur,” katanya.</p>
<p>Mimi Rasinah rupanya ingin menari sampai mati hingga topeng kelana kesayangannya pun ikut dikuburkan. (Agung Nugroho/Fitri Rumantis/”PR”)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=229</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Kang Uyan Asmi</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=225</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=225#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 03:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inohong Seni dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Pagi-pagi baca berita di internet, salah satu seniman Sunda, pentolan grup lawak d&#8217;Bodor yaitu Yan Asmi telah meninggal dunia. Berikut petikan beritanya dari Pikiran Rakyat: SUKABUMI, (PRLM).- Uyan Suryana bin Dodo Sukardi atau kerap disapa Kang Yan Asmi De&#8217;Bodor, Senin (29/3) meninggal dunia. Pelawak asal Sukabumi itu meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi-pagi baca berita di internet, salah satu seniman Sunda, pentolan grup lawak d&#8217;Bodor yaitu Yan Asmi telah meninggal dunia. Berikut petikan beritanya dari Pikiran Rakyat:</p>
<blockquote><p>SUKABUMI, (PRLM).- Uyan Suryana bin Dodo Sukardi atau kerap disapa Kang Yan Asmi De&#8217;Bodor, Senin (29/3) meninggal dunia. Pelawak asal Sukabumi itu meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin, Senin (29/3) dini hari. Sebelum menghebuskan napas terakhirnya, Yas Asmi sempat dilarikan kerumah sakit, Minggu (28/3) karena penyakit liver yang diderita.</p>
<p>Dia sempat tidak sadarkan diri ketika dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Selain menderita liver, dia juga menderita vertigo. Karena penyakit yang dideritanya itu, salah seorang personel De&#8217;Bodor itu harus dirawat selama sebulan.</p>
<p>&#8220;Papa sempat dilarikan ke rumah sakit seusai Adzan Magrib dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tim dokter langsung menangani, kesehatannya yang terus menurun. Walaupun telah berusaha maksimal, Allah SWT berkehendak lain, Papa meninggalkan kami semua, Senin dini hari,&#8221; kata anak Yan Asmi, Para Adhi Darma, Senin (29/3). (A-162/A-120) ***</p></blockquote>
<p>Saya beberapa kali bertemu dengan Kang Uyan, lalu sama-sama berada di jajaran pengurus Forum Komunikasi Media Tradisi Jawa Barat (FK-Metra Jabar). Selamat jalan Kang.., mugia Allah SWT nampi sagala amal ibadah Akang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=225</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mementaskan Kesenian Tanpa Hakikat</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=222</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=222#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Keberlangsungan hidup berkesenian dewasa ini tidak terlepas dari peran kalangan akademisi, utamanya di perguruan tinggi seni. Perguruan tinggi seni menjalankan tugasnya sebagai wadah konservasi, pengembangan kreativitas seni, sekaligus menggali setiap kemungkinan yang membuatnya lebih kaya. Salah satu tokoh yang tepat untuk diajak memperbincangkan tema ini adalah Fransiscus Xaverius Widaryanto. Menguasai tari dan gamelan Jawa, Mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberlangsungan hidup berkesenian dewasa ini tidak terlepas dari peran kalangan akademisi, utamanya di perguruan tinggi seni. Perguruan tinggi seni menjalankan tugasnya sebagai wadah konservasi, pengembangan kreativitas seni, sekaligus menggali setiap kemungkinan yang membuatnya lebih kaya.</p>
<p>Salah satu tokoh yang tepat untuk diajak memperbincangkan tema ini adalah Fransiscus Xaverius Widaryanto. Menguasai tari dan gamelan Jawa, Mas Wid &#8212; begitu dia akrab disapa&#8211; kini dipercaya sebagai Sekretaris Forum Guru Besar dan Empu Seni. Forum ini merupakan think tank para pakar dan pelaku seni yang dipercaya memberikan masukan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dalam pengolahan kurikulum kesenian.</p>
<p>Akhir pekan lalu, &#8220;PR&#8221; mewawancarai dosen Kritik Tari dan Estetika Tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu. Berikut petikan wawancaranya:</p>
<p><span id="more-222"></span><em>Menurut Anda, ada persoalan dalam kehidupan berkesenian di Indonesia secara luas atau Jawa Barat khususnya?</em></p>
<p>Saya kira, gejala umum yang sekarang terjadi adalah kesenian diperlakukan sebagai komoditas belaka. Artinya, kesenian dipertontonkan tanpa melibatkan keseluruhan hakikatnya. Pentas-pentas ke luar negeri, saya rasa, juga kerap jatuh menjadi proses komodifikasi semacam ini. Hal sama terjadi dengan pendekatan model projek, seperti membangun gedung-gedung kesenian. Saya rasa, kunci memelihara hidup berkesenian bukan dengan cara-cara semacam itu. Yang paling pokok adalah menggali keberdayaan para pelaku seni. Peningkatan frekuensi tampilan seniman penting. Jika hal ini terjaga, ujung-ujungnya nanti akan tumbuh kebanggaan sehingga pewarisan kesenian tidak lagi menjadi masalah.</p>
<p><em>Banyak kalangan menuding kemajuan teknologi sebagai salah satu penyebab kemunduran kesenian. Pendapat Anda?</em></p>
<p>Saya kira tidak tepat mempertentangkan kesenian dengan teknologi. Teknologi justru memberi ruang kepada kesenian untuk berkembang. Ini sesuatu yang tak terhindarkan. Tidak jarang, berkat teknologi, muncul produk-produk baru yang tak terbayangkan sebelumnya.</p>
<p><em>Dalam usaha pemeliharaan dan pengembangan kesenian, di mana letak peran perguruan tinggi seni?</em></p>
<p>Perguruan tinggi harus dapat menjadi konservatorium. Mereka menyimpan karya. Banyak hasil kesenian yang telah punah dan tak tercatat. Ini amat disayangkan. Menjadi tugas perguruan tinggi seni untuk membuat kajian selengkap mungkin sehingga masyarakat dapat mengapresiasi dan mempelajari. Tidak hanya seni tradisional yang lawas, tetapi juga produk seni yang baru tumbuh. Pada saat bersamaan, perguruan tinggi seni bertugas mengembangkan produk-produk kesenian tersebut lewat kurikulum yang ada.</p>
<p><em>Apakah sejauh ini perguruan tinggi telah menjalankan perannya dengan baik?</em></p>
<p>Harus diakui, kurikulum perguruan tinggi kerap terlambat menangkap perkembangan kesenian di masyarakat. Seni grafis dan film pendek, misalnya, tumbuh di mana-mana sedemikian cepat. Akan tetapi, kurikulum di perguruan tinggi belum siap. Disiplin ilmu masih terkotak-kotak. Ini salah satu permasalahan yang mesti segera diperbaiki.</p>
<p><em>Anda tergabung dalam Forum Guru Besar dan Empu Seni. Apa yang sekarang sedang dikerjakan forum ini?</em></p>
<p>Saat ini, kami sedang menggali metodologi penciptaan karya seni di kalangan seniman besar. Metodologi ini diharapkan dapat menjadi semacam pegangan untuk mempelajari proses kreatif para empu dari seluruh Nusantara. (Ag. Tri Joko Her Riadi/&#8221;PR&#8221;)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=222</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Seperti Dapur dan Meja Makan&#8221;</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=220</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=220#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Keindahan itu tak seperti aslinya. Begitu paling tidak kalimat yang bisa menggambarkan kondisi karya seni di Jawa Barat (Jabar). Siapa sangka, di balik eksotisme penari jaipong, keharmonisan ketukan angklung, dan indahnya puisi Sunda, seniman di Jabar masih merintih. Apresiasi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan keindahan seni yang mereka berikan. Menghargai seni bisa diartikan memberikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keindahan itu tak seperti aslinya. Begitu paling tidak kalimat yang bisa menggambarkan kondisi karya seni di Jawa Barat (Jabar). Siapa sangka, di balik eksotisme penari jaipong, keharmonisan ketukan angklung, dan indahnya puisi Sunda, seniman di Jabar masih merintih. Apresiasi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan keindahan seni yang mereka berikan.</p>
<p>Menghargai seni bisa diartikan memberikan ruang yang layak bagi seni untuk terus dikaryakan dan diekspresikan. Jabar memiliki tiga ratus jenis kesenian. Faktanya, masyarakat &#8211;khususnya pemangku kepentingan di Jabar&#8211; belum semuanya terbuka dengan hal itu. Seni semakin dinilai sebagai hiburan an sich. </p>
<p>Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Herdiwan menilai, langkah-langkah yang ditempuh Pemerintah Jabar selama ini belum sepenuhnya menyentuh wilayah apresiasi. ”Pentas tari ke luar negeri memang ada, tetapi menurut saya itu orang yang mau berseni dengan dibayar. Seharusnya, APBD diberikan kepada pelaku seni yang mengembangkan seni karena kecintaan dan mereka kebanyakan berada di pelosok daerah,” tuturnya. </p>
<p><span id="more-220"></span>Bagi Herdiwan, apresiasi juga merupakan kunci regenerasi yang sehat. Lemahnya regenerasi sejauh ini masih menjadi persoalan kesenian di Jabar. Menguatnya regenerasi melalui apresiasi, paling tidak, dibuktikannya setelah mengadakan pergelaran di Soreang, Kabupaten Bandung, dua bulan setelah menjabat sebagai kepala dinas. ”Waktu itu pemainnya tua-tua. Lalu pada akhir tahun untuk kilas balik atau enam bulan setelah pergelaran itu, ternyata ada empat pemuda yang datang ke tempat latihan. Ketika ditanya, ternyata karena mereka melihat karya orang tua mereka ditanggap. Artinya dihargai,” katanya.</p>
<p>Berbasis kepada apresiasi itulah Herdiwan merumuskan tiga hal sebagai upaya pengembangan dan pelestarian produk-produk kesenian di Jabar, yaitu membangun padepokan seni di lima belas titik, mewadahi ekspresi seni dalam festival rutin, dan memperluas kriteria penghargaan kesenian. Mampukah Herdiwan membuat kondisi kesenian Jabar lebih baik?</p>
<p>Bisa dijelaskan tentang program Anda?</p>
<p>Kalau bisa kita analogikan, mengapresiasi kesenian seperti menyiapkan dapur dan meja makan. Menyiapkan dapur yaitu memfasilitasi para pelaku seni dalam berkarya, mengembangkannya, dan menemukan kreasi baru. Ketika yang dari dapur itu sudah siap, kita sediakan meja makannya, yaitu sebuah ajang bagi mereka untuk mengekspresikan karya. </p>
<p>Sebagai ”dapur”, saat ini tengah dibangun lima belas padepokan seni atas bantuan gubernur senilai Rp 3 miliar. Pemilihan lokasi pembangunan diprioritaskan bagi mereka yang menghargai seni dengan rasa cinta dan yang dapat mengungkit minat masyarakat sekitar terhadap seni.</p>
<p>Padepokan dibangun di Kota Depok, Kabupaten Karawang, Subang, Cianjur, Sukabumi, Banjar, Cirebon, Sumedang, Kuningan, Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut dua buah, Bekasi, dan Cihideung Kabupaten Bandung Barat. </p>
<p>Sementara ”meja makannya”, kami tengah menyiapkan festival pada 2010 ini, yaitu World Ethnic Festival, International Congress World Ethnic, dan Indigenous of Culture of West Java di Monumen Juang (monumen perjuangan) Bandung. Indigenous ini akan dimotori oleh sekolah-sekolah seni dengan mengangkat satu alur cerita dari berbagai kesenian. Semua seniman, khususnya dari lima belas padepokan, bisa tampil dimotori oleh sekolah-sekolah yang berhubungan dengan seni. </p>
<p>Selain itu, budaya lain seperti kuliner, kriya, batik, dan yang berhubungan dengan asal seni setiap daerah akan ditampilkan. Rencananya setelah April hingga akhir tahun dengan dana Rp 800 juta. Ini akan jadi agenda tahunan. </p>
<p>Tahun ini pun akan dibangun dua gedung kesenian di Karangkamulyan di perbatasan Kota Ciamis-Banjar dan Bogor. Satu lagi adalah award (penghargaan). Pada 2009 memang sudah diberikan, tetapi kriterianya terlalu sempit. Selama ini yang dihargai pelakunya saja seperti penari. Siapa yang menghargai tukang gong atau tukang kendang. Itu yang akan diperluas.</p>
<p>Mengapa mengangkat dua festival internasional?<br />
World Ethnic Festival untuk mengangkat kesenian Sunda secara internasional. Sementara International Congress World Ethnic itu untuk membahas seperti apa sebenarnya budaya Sunda, baik dari kaca mata pakar dalam maupun luar negeri. Tidak bisa dimungkiri, orang-orang kalau belajar tentang kebudayaan sunda ke Leiden, Belanda. </p>
<p>Saya sudah data sepuluh negara adidaya yang punya komunitas Sunda, tetapi bukan terdiri atas orang-orang Indonesia. Negara itu antara lain Jepang, Korea, Australia, dan Amerika Serikat. </p>
<p>Bagaimana dengan akses dana yang masih menjadi keluhan seniman?</p>
<p>APBD itu stimulan, kami adalah fasilitator. Ketika ada sandiwara tingkat RW yang minta dana ke gubernur, itu sudah tidak sehat. Maka, kriteria pemberian bantuan adalah atas dasar prestasi apa yang pernah dia (seniman) raih, lebih diutamakan festival lintas kabupaten/kota daripada pergelaran tunggal, dan acara festival itu sudah tumbuh. Jadi, bukan karena ada uang pergelaran itu diadakan. </p>
<p>Setahun, kami menerima delapan ratus proposal. Sementara dana untuk bantuan pergelaran itu pada 2008 Rp 2 miliar dan pada 2009 Rp 1,2 miliar. Untuk 2010 belum tahu karena wewenang ada di Gedung Sate dan besarnya bergantung kebijakan gubernur. Untuk itu, proposal harus diseleksi. Seharusnya money follow function tetapi di kita justru sebaliknya. (Amaliya/”PR”)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=220</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Alun-Alun Tak Lagi Bebas Diakses</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=217</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=217#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Seperti pepatah ada gula ada semut, para pelaku teater oncor juga selalu berusaha mencari pusat-pusat keramaian. Semakin banyak penonton, semakin efektif upaya seniman memperkenalkan karya mereka. Tambahan lagi, semakin banyak pula saweran yang mungkin didapatkan. Oleh karena itu, pada zaman teater oncor alun-alun setiap wilayah di Provinsi Jawa Barat memegang peranan penting. Berfungsi sebagai ruang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti pepatah ada gula ada semut, para pelaku teater oncor juga selalu berusaha mencari pusat-pusat keramaian. Semakin banyak penonton, semakin efektif upaya seniman memperkenalkan karya mereka. Tambahan lagi, semakin banyak pula saweran yang mungkin didapatkan. Oleh karena itu, pada zaman teater oncor alun-alun setiap wilayah di Provinsi Jawa Barat memegang peranan penting.</p>
<p>Berfungsi sebagai ruang publik, alun-alun memungkinkan rakyat menggelar berbagai ajang interaksi yang mampu mendatangkan banyak orang. Hal ini didukung letak alun-alun yang strategis. Di Indonesia, kebanyakan alun-alun terintegrasi dengan pusat-pusat pemerintahan dan keagamaan. Dari sinilah alun-alun berperan memudahkan seni pertunjukan tradisional berkembang.</p>
<p>Menurut budayawan Jakob Sumardjo, alun-alun merepresentasikan riwayat seni pertunjukan di masyarakat lama yang selalu dilangsungkan di ruang-ruang terbuka. Tak hanya di alun-alun, seni juga ditampilkan di halaman rumah, di sawah, di bibir pantai, atau di sumber mata air. &#8220;Hal ini sekaligus menandakan kedekatan manusia, ketika itu, dengan alam. Dulu, manusia dan alam harmonis. Berbeda dengan sekarang ketika manusia selalu ingin tampil di atas,&#8221; ucapnya.</p>
<p><span id="more-217"></span>Sebelum masuknya agama-agama modern, masyarakat lama tidak mengenal tempat peribadatan berupa bangunan. Harap dicatat, kesenian selalu merupakan bagian dari sistem religi. Seni pertunjukan adalah semacam liturgi, tata cara peribadatan yang kaku dalam penetapan urut-urutannya. Dalam kultur semacam inilah, ruang terbuka, khususnya alun-alun, menyumbang peran penting dalam pengembangan seni pertunjukan.</p>
<p>Seniman Godi Suwarna mencontohkan seni babancong. Dahulu, kesenian tersebut berkembang pesat di sejumlah daerah di Jabar bagian timur, seperti Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya. Salah satunya berkat peran alun-alun di tiap-tiap kota. Namun dalam perkembangannya, babancong semakin sulit ditemui, seperti yang terjadi di Tasikmalaya. &#8220;Alun-alun di Tasikmalaya sekarang terkesan menyeramkan, apalagi pada malam hari,&#8221; katanya.</p>
<p>Saat ini, kebanyakan alun-alun tak lagi menjadi ruang publik yang mudah diakses oleh masyarakat dan seniman. Pengubahan tata ruang dan pengetatan keamanan adalah sebabnya. Pagar yang tinggi kerap mengelilingi alun-alun, seolah ingin mencegah orang masuk. Perubahan wajah alun-alun itu berimbas buruk terhadap pemanfaatannya sebagai ajang seni pertunjukan.</p>
<p>Upaya pengetatan keamanan di alun-alun identik dengan pengurusan izin-izin pergelaran yang amat sering menjadi terlalu berbelit. Untuk kesenian-kesenian nomaden, pengurusan izin bukan menjadi prioritas. &#8220;Mending mencari tempat lain daripada mengurus izin. Apalagi, secara organisasi, mereka tidak begitu terstruktur sehingga kerap terganjal perizinannya,&#8221; ujarnya. (Amaliya/Ag. Tri Joko Her Riadi/&#8221;PR&#8221;)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=217</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gedung Kesenian Bukan Segala-galanya</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=214</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=214#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[PENGERTIAN ihwal fungsi dan makna seni yang berubah-ubah dari masa ke masa, telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam memaknai ruang tempat kehadiran seni itu sendiri sebagai peristiwa. Ruang merupakan kesatuan dalam peristiwa kehadiran seni yang, dengan itu, menjelaskan pemaknaan serta fungsi seni dalam masyarakat. Hingga sejauh mana seni berperan dan bermakna bagi masyarakatnya, bisa diselisik dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENGERTIAN ihwal fungsi dan makna seni yang berubah-ubah dari masa ke masa, telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam memaknai ruang tempat kehadiran seni itu sendiri sebagai peristiwa. Ruang merupakan kesatuan dalam peristiwa kehadiran seni yang, dengan itu, menjelaskan pemaknaan serta fungsi seni dalam masyarakat. Hingga sejauh mana seni berperan dan bermakna bagi masyarakatnya, bisa diselisik dari ruang mana peristiwa seni itu hadir dan dihadirkan.</p>
<p>Bagi masyarakat primordial di Indonesia, seni hadir bersama peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi dalam masyarakatnya. Bersama berbagai upacara &#8211;sebutlah, seren taun, panen, ziarah leluhur, hajat laut, pesta pernikahan, dan kematian, atau sejumlah ritus religi&#8211;, seni di dalamnya hadir sebagai peristiwa komunal. Ia hadir dalam ruang bersama di tanah lapang hingga di pelataran rumah.</p>
<p>Di ruang bersama dalam berbagai peristiwa sosial semacam inilah seni tradisi dimengerti bukan sebagai ”seni” itu sendiri. Akan tetapi, bertautan langsung dengan konteks keperluan masyarakatnya. Oleh karena itu, umumnya, seni tradisi berlangsung dalam ruang terbuka (outdoor). Tentu saja, hal itu dengan mengecualikan seni-seni klasik milik para bangsawan di Jawa yang diadakan di keraton atau di pendopo kabupaten (dalem).</p>
<p><span id="more-214"></span>Kolonialisme yang mengusung modernisme ke nusantara di akhir abad ke-19 ternyata tak hanya membawa seni modern, seni yang melulu demi seni itu sendiri. Akan tetapi, juga melakukan perubahan dalam pengelolaan arsitektur ruang. Demikian pula ruang bagi kehadiran seni. Seni yang pada awalnya hadir bersama dalam ruang dan peristiwa sosial masyarakatnya, kini mulai diperkenalkan pada gedung pertunjukan.</p>
<p>Agaknya, inilah yang menjadi permulaan ketika ruang kehadiran seni lebih ditentukan oleh ruang fisik (gedung pertunjukan) ketimbang ruang sosialnya. Teater rakyat yang awalnya hadir bersama di pelataran rumah atau tanah lapang &#8212; bersama seluruh aktivitas masyarakatnya dengan penerangan oncor&#8211;, kini beralih ke panggung di dalam gedung. Masyarakat sebagai penonton yang sebelumnya bisa menyaksikan pertunjukan dengan leluasa sambil berjalan-jalan, kini terpaksa menonton dengan duduk pasif.</p>
<p>Pada awalnya, gedung-gedung kesenian memang hanya disediakan bagi kebutuhan seni modern. Akan tetapi, dalam perkembangannya, gedung pertunjukan pun mulai dianggap sebagai ruang bagi berbagai bentuk  pertunjukan seni tradisi. Terutama di kota-kota besar, agaknya hal ini bersebab pada adanya semacam prestise (gengsi) yang dilekatkan pada gedung pertunjukan. Apalagi, ruang-ruang semacam ini melabeli dirinya sebagai pusat kesenian. Ruang yang dianggap bisa melegitimasi kehadiran sebuah kelompok seni.</p>
<p>Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, taman-taman budaya , atau gedung-gedung kesenian di sejumlah kota besar, bisa disebut sebagai ruang semacam itu. Tampil di gedung-gedung pertunjukan selalu dianggap lebih memiliki prestise ketimbang tampil di pelataran rumah atau di tanah lapang di tengah masyarakat.</p>
<p>Ruang fisik seperti inilah yang kemudian berkembang menjadi semacam alat ukur kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap seni tradisi. Oleh karena itu, misalnya, tak sedikit kalangan yang mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah atas kondisi gedung-gedung kesenian sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup seni tradisi. Seolah-olah, hidup matinya seni tradisi amat bergantung pada gedung pertunjukan.</p>
<p>**</p>
<p>SEBAGAI peristiwa dan tontonan, roh seni tradisi hanya bisa ditemukan ketika ia berada di tengah masyarakatnya, demi kebutuhan-kebutuhan transenden hingga dalam peristiwa keseharian yang pragmatis sekalipun. Ruang fisik seperti gedung kesenian atau teater tertutup dan terbuka yang ada di taman-taman budaya, tentu saja tetap penting untuk melakukan perluasan apresiasi seni tradisi. Namun, ruang fisik semacam itu bukanlah satu-satunya untuk menegaskan keberadaan seni tradisi, apalagi dianggap sebagai ruang yang menentukan hidup atau matinya seni tradisi.</p>
<p>Dalam konteks keperluannya sebagai peristiwa tontonan yang hadir bersama berbagai peristiwa sosial, seni tradisi agaknya perlu melakukan revitalisasi ihwal ruang yang menjadi daya hidup serta kemandiriannya. Dua hal inilah yang sesungguhnya menjadi penanda penting dalam eksistensi dan pertumbuhan berbagai bentuk seni tradisi.</p>
<p>Generasi seniman seni tradisi semacam Sujana Ardja, Rasinah, Ibu Sawitri, Ibu Dewi, atau para seniman seni tradisi lainnya, mulai dari Angklung Buncis hingga Kuda Renggong, adalah para seniman tradisi yang pernah mengamen dari desa ke desa. Mengamen, dalam pemaknaan ini, berarti seni tradisi memiliki kemampuannya untuk menjadi subjek otonom dalam membangun ruang kehadirannya di tengah masyarakat.</p>
<p>Dengan kata lain, revitalisasi ruang seni tradisi hanya bisa dilakukan sepanjang para pelaku seni tradisi itu sendiri menyadari kemampuannya dalam melakukan berbagai improvisasi pemilihan ruang, yang tidak melulu hanya menggantungkan nasibnya kepada gedung-gedung pertunjukan.</p>
<p>Mengamen dari kampung ke kampung, pada masanya dulu, baik dibaca sebagai strategi para pelaku seni tradisi menghadirkan dirinya dalam ruang-ruang sosial. Di samping tentu saja sebagai penggojlokan mental para (calon) seniman, sekaligus sebagai strategi daya hidup dan kemandirian mereka secara finansial. Dan, mentransformasikan gagasan semacam ini ke dalam ruang-ruang urban bukanlah sesuatu yang mustahil.</p>
<p>Pertumbuhan kota-kota besar seperti Bandung, telah melahirkan banyak alternatif ruang bagi berbagai ekspresi di ruang publik. Ruang-ruang inilah yang disadari oleh sejumlah musisi yang tampil di trotoar-trotoar, seperti banyak ditemukan saban Sabtu malam di kawasan Dago atau di kawasan Viaduct. Demikian pula bagaimana sejumlah persimpangan di bawah jembatan layang Pasupati telah pula menjadi ajang tontonan doger monyet.</p>
<p>Ya, uang-ruang publik di Kota Bandung menyediakan sejumlah pertimbangan alternatif bagi kehadiran seni-seni tradisi untuk kembali pada spiritnya semula, sebagai subjek otonom dalam menentukan ruang kehadirannya di tengah masyarakat. Dengan demikian, di persimpangan jalan, orang tak hanya disuguhi oleh tontonan doger monyet, tetapi mungkin juga Sisingaan. Demikian pula di ruang-ruang publik lainnya. (Ahda Imran)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=214</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Tanggaplah&#8221; Seniman, Lestarilah Kesenian</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=211</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=211#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 23:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Sangat melegakan andai kita bisa berkata lantang, &#8220;Tak ada yang perlu dicemaskan tentang hidup berkesenian di Jawa Barat!&#8221; Meski kebanyakan kalangan mengkhawatirkan arus globalisasi bakal menggilasnya, sekuat tenaga seni pertunjukan bertahan. Globalisasi hanya memberikan &#8220;sentuhan baru&#8221; bagi produk-produknya. Faktanya, para seniman &#8211;sebagai &#8220;dalang&#8221; kesenian&#8211; memang terus mencipta. Seni pertunjukan berkembang dalam kemasan-kemasan baru. Termasuk seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat melegakan andai kita bisa berkata lantang, &#8220;Tak ada yang perlu dicemaskan tentang hidup berkesenian di Jawa Barat!&#8221; Meski kebanyakan kalangan mengkhawatirkan arus globalisasi bakal menggilasnya, sekuat tenaga seni pertunjukan bertahan. Globalisasi hanya memberikan &#8220;sentuhan baru&#8221; bagi produk-produknya.</p>
<p>Faktanya, para seniman &#8211;sebagai &#8220;dalang&#8221; kesenian&#8211; memang terus mencipta. Seni pertunjukan berkembang dalam kemasan-kemasan baru. Termasuk seni pertunjukan lawas yang digolongkan ke dalam &#8220;teater oncor&#8221;, kesenian yang (dulunya) dipergelarkan secara ngamen di tanah lapang dan hanya berpenerang oncor, obor bercabang tiga. Longser, topeng, ubrug, dan berbagai tarian khas di Jabar hingga kini tetap hidup. Sebagian berhasil mempertahankan diri dalam bentuk-bentuk lama. Sebagian lagi berubah rupa dalam pergelaran tunggal kesenian dan festival-festival. &#8220;Para pelaku seni memiliki kesadaran untuk terus berinovasi,&#8221; kata pengamat teater rakyat sekaligus pewayang dan sutradara, Arthur S. Nalan.</p>
<p>Persoalannya, seni pertunjukan bukan saja soal inovasi seniman. Di zaman modern seperti sekarang ini, seni pertunjukan amat membutuhkan masyarakat sebagai apresiator dan tentu saja, pemerintah sebagai promotor sekaligus regulator. Hal ini tidak terlepas dari pergeseran pemaknaan seni pertunjukan. Jika dulu kesenian menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem kepercayaan, kini, kesenian tak lebih dari sekadar tontonan dan hiburan.</p>
<p><span id="more-211"></span>Menurut budayawan Jakob Sumardjo, ketika menjadi tontonan, konsekuensinya kesenian dituntut hadir semenarik mungkin. Kalau gagal menarik minat, ditinggalkanlah kesenian tersebut oleh masyarakatnya. Gejala seperti ini terjadi, terutama di kota-kota besar. &#8220;Beda dengan kesenian di zaman dulu. Apa pun keadaannya, masyarakat jelas membutuhkan kehadiran kesenian. Soalnya, kesenian merupakan bagian dari sistem kepercayaan atau religi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Selain seniman, adalah tugas pemerintah untuk membuat seni pertunjukan tradisional menjadi tontonan menarik, tak kalah dengan dangdut atau organ tunggal. Jika kesenian tampil menarik, akan ada apresiasi besar dari masyarakat. Muaranya, akan terjadi proses alami pelestarian kesenian tersebut lewat proses regenerasi. &#8220;Regenerasi merupakan kunci terjaminnya keberlangsungan hidup berkesenian,&#8221; kata Jakob.</p>
<p>Pengajar Estetika Seni sekaligus kritikus seni dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, FX. Widaryanto menilai, kehadiran pemerintah dalam menyokong hidup berkesenian merupakan sebuah kebutuhan. &#8220;Bukan berarti seniman itu manja. Akan tetapi, kehadiran seniman amat diperlukan untuk menjaga keaktualan nilai-nilai dan pesan kemanusiaan sebuah karya seni. Kesenian memberikan kesadaran dan pencerahan kepada masyarakatnya. Sisi ini yang mesti dijaga pemerintah yang beradab dan berbudaya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>**</p>
<p>Salah satu persoalan adalah minimnya gedung kesenian, terutama di sejumlah daerah-daerah di Jabar. Akibatnya, ekspresi seniman tidak secara maksimal tersalurkan karena gedung kesenian tidak bisa dipisahkan dengan pergelaran kekinian. Jika dibiarkan berlarut, terhambatlah upaya pembangkitan apresiasi seni di kalangan generasi muda karena mereka tidak pernah mengenal dan tidak pernah punya acuan.</p>
<p>&#8220;Di Bandung, masih mending ada gedung kesenian. Dengan demikian, guru masih bisa mewajibkan muridnya untuk menonton pergelaran kesenian. Di daerah kan gedung kesenian susah. Akhirnya, orang susah mengapresiasi kesenian baru. Akhirnya, mereka kembali lagi ke televisi untuk mencari tontonan,&#8221; ujar seniman Godi Suwarna.</p>
<p>Selain masih minimnya fasilitas, Godi mengatakan bahwa akses dana dari kabupaten/kota dan provinsi untuk pergelaran belum mendapat porsi yang sesuai. &#8220;Dalam festival drama bahasa Sunda se-Jabar dan nyalumar di Ciamis misalnya, panitia harus mencari uang door to door ke donatur. Kami sudah mengajukan proposal ke pemerintah, tetapi tidak ada hasilnya,&#8221; ucap penyair asal Kabupaten Ciamis itu.</p>
<p>Godi juga berharap, dengan anggaran yang tidak melimpah tersebut, semestinya, pemerintah selektif dalam memilih dan memilah kesenian mana saja yang harus dibantu. Pasalnya, dana dari pemerintah tak jarang mengalir untuk sejumlah proposal fiktif. Ini tentu merugikan iklim berkesenian, terutama di daerah yang notabene memiliki rentang kendali yang cukup jauh dari pemerintah.</p>
<p>Promosi produk-produk kesenian oleh pemerintah daerah pun selama ini dinilai tak bertaji. Godi mencontohkan promosi Pemprov Jabar melalui iklan televisi yang dinilainya gagal membuat pemirsa menjadi begitu tertarik pada kesenian. &#8220;Harus dicari strategi yang efektif. Apakah selama ini promosi ke luar negeri itu efektif? Coba dialihkan ke bentuk promosi lain yang memang terlihat hasilnya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>**</p>
<p>Masih rendahnya apresiasi, baik oleh pemerintah Jabar maupun masyarakat, disadari benar oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, Herdiwan. Padahal, menurut dia, selain berpengaruh buruk terhadap upaya pelestarian kesenian, minimnya apresiasi ini juga merupakan kunci utama lemahnya regenerasi.</p>
<p>Herdiwan mengaku, dinas yang ia pimpin telah merumuskan langkah-langkah untuk membangkitkan apresiasi seni di semua kalangan, di antaranya membangun padepokan seni di lima belas titik, mewadahi ekspresi seni dalam festival rutin, dan memperluas kriteria penghargaan kesenian. &#8220;Selama ini, kriteria penghargaan terlalu sempit,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Jakob menilai, usaha mengembangkan seni pertunjukan tak cukup dengan sekadar membangun secara fisik, baik gedung pertunjukan maupun padepokan. Sebab, nanti, ujung-ujungnya hanya projek-projekan belaka. Yang lebih penting adalah peningkatan frekuensi pementasan. Dengan begitu, kesempatan masyarakat untuk mengapresiasi beraneka ragam jenis kesenian semakin terbuka luas. Seniman pun akan semakin bergairah dalam berkarya.</p>
<p>&#8220;Kalau mau memelihara kesenian, ya pelihara para senimannya. Kalau mau memelihara senimannya, ya tanggap mereka. Buat jadwal pementasan yang rutin (dan beraneka ragam) lalu promosikan. Selama para seniman memperoleh banyak tanggapan, maka kesenian akan lestari,&#8221; ujarnya. (Amaliya/Ag. Tri Joko Her Riadi/&#8221;PR&#8221;)***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=211</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baraya Transit, Tokyo &#8211; Jepang</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=204</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=204#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 12:50:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Baraya Transit (Batran) adalah sebuah paguyuban yang baru saja didirikan di Tokyo Jepang. Tepatnya pada tanggal 16 Januari 2010. Baraya (Sunda.red) yaitu saudara dan Transit adalah singgah untuk sementara. Mengingat anggota baraya kebanyakan pelajar dan pekerja yang tidak akan selamanya tinggal di Jepang. Akhmad Munir S.Pd pun terpilih dan di percaya untuk menjadi pupuhu/ sesepuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baraya Transit (Batran) adalah sebuah paguyuban yang baru saja didirikan di Tokyo Jepang. Tepatnya pada tanggal 16 Januari 2010. Baraya (Sunda.red) yaitu saudara dan Transit adalah singgah untuk sementara. Mengingat anggota baraya kebanyakan pelajar dan pekerja yang tidak akan selamanya tinggal di Jepang. Akhmad Munir S.Pd pun terpilih dan di percaya untuk menjadi pupuhu/ sesepuh BATRAN periode 2010-2012.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-205" title="Batrans01" src="http://silokabudaya.com/wp-content/uploads/2010/01/Batrans01.jpg" alt="" width="450" height="280" /><span id="more-204"></span></p>
<p><strong>KEGIATAN RUTIN BATRAN</strong></p>
<p>Pantas kalau setiap orang berkata kami hanya “Kumpul-kumpul tidak karuan”, mengingat baraya yang datang setiap sabtu malam di Balai Indonesia Tokyo berpakaian dengan gaya anak muda yang beragam. Rambut gondrong, celana jeans, pake gelang dan rantai dompet yang panjang.</p>
<p><strong>PENGAJIAN<br />
</strong></p>
<p>Akan tetapi, suasana berubah mulai pukul 7 malam. Semua pergi mengambil air wudhu dan menuju ke sebuah mushola Kecil di Balai Indonesia. Di pimpin oleh Ustadz Bukhori S.PdI, mereka mengaji Qur’an. Pak Ustadz menyampaikan materi dan cara baca Qur’an dengan penyampaian yang lain daripada yang lain. Membuat kami semua kerasan berada di mushola itu. Seusia kami, ternyata baca Qur’an saja masih salah-salah.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-206" title="Batran02" src="http://silokabudaya.com/wp-content/uploads/2010/01/Batran02.jpg" alt="" width="450" height="299" /></p>
<p><strong>EKSPLORASI SENI DAN BUDAYA</strong></p>
<p>Satu jam pengajian selesai, barayapun siap-siap menuju ruang gamelan. Kali ini mereka berubah menjadi sosok pelaku seni yang handal. Dengan memanfaatkan sebuah gamelan “terbaik”, kamipun bermain dan berlatih.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-207" title="batran03" src="http://silokabudaya.com/wp-content/uploads/2010/01/batran03.jpg" alt="" width="450" height="298" /></p>
<p>Harapan kami, semoga kiprah ini mendapat dukungan dari semua pihak tanpa di bayang-bayangi oleh “prasangka urakan” yang acap kali kami dengar dan kami temui. Kita adalah satu bangsa yang seyogyanya hidup bersama, menegakkan rasa bertoleransi terhadap sesama. Kami adalah anak negeri yang tidak punya misi lebih. Untuk saat ini hanyalah misi mempererat tali silaturahmi.</p>
<p>Sumber: <a href="http://dhanyirfan.net/archives/897">http://dhanyirfan.net/archives/897</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=204</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendang, The First Sundanese App for iPhone/iPod Touch</title>
		<link>http://silokabudaya.com/?p=202</link>
		<comments>http://silokabudaya.com/?p=202#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 22:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eep</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silokabudaya.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Indonesia patut berbangga, terutama masyarakat Jawa Barat, karena ada salah satu seniman Jawa Barat yang telah peduli membuat aplikasi alat musik kendang (gendang) khusus buat iPhone/iPod Touch, yang dapat diunduh langsung dari iTunes Store secara gratis!! Adalah seorang Dhany Irfan yang dengan ketekunannya membuat aplikasi tersebut dan memasukannya ke iTunes Store sehingga dapat diunduh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Bangsa Indonesia patut berbangga, terutama masyarakat Jawa Barat, karena ada salah satu seniman Jawa Barat yang telah peduli membuat aplikasi alat musik kendang (gendang) khusus buat iPhone/iPod Touch, yang dapat diunduh langsung dari iTunes Store secara gratis!! Adalah seorang Dhany Irfan yang dengan ketekunannya membuat aplikasi tersebut dan memasukannya ke iTunes Store sehingga dapat diunduh oleh siapa pun dibelahan dunia mana pun.</p>
<p>Aplikasi ini adalah yang pertama karya urang Sunda yang masuk secara resmi dan diterima oleh Apple Inc. Semoga aplikasi ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk tetap mencintai seni dan budaya kita sendiri, dan sebagai promosi seni budaya kita di kancah dunia internasional. Semoga pemerintah Indonesia ada kepedulian lebih terhadap budaya dan seni bangsa ini, daripada ribut-ribut mempatenkan seni budaya karena sering diklaim oleh tetangga kita.</p>
<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture.png"><img class="alignnone size-large wp-image-1861" title="screen-capture" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1024x606.png" alt="" width="491" height="291" /></a></p>
<p><a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1862" title="screen-capture-1" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-1-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a> <a rel="lightbox" href="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-2.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1863" title="screen-capture-2" src="http://eepinside.com/wp-content/uploads/2010/01/screen-capture-2-150x150.png" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Source: http://eepinside.com/?p=1860</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silokabudaya.com/?feed=rss2&amp;p=202</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
