Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
Tasikmalaya, Kompas – Seni karinding dari Kampung Citamiang, Desa Pasirmukti, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, jarang dikenal masyarakat.
Jangankan masyarakat dari daerah lain, warga Tasikmalaya pun tidak banyak yang mengenal jenis alat musik, yang dulu dipakai untuk memikat hati wanita ini.
Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya pun tidak memiliki referensi tentang alat musik ini. Bahkan, Pemkab Tasikmalaya baru mengetahui ada kesenian karinding setelah seniman karinding bermain dalam beberapa acara.
Titi AR dari Seksi Seni dan Budaya Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, mengatakan, pekan lalu, Kantor Pariwisatadan Kebudayaan tidak memiliki referensi seni karinding.
Padahal, menurut Sule Nurharismana dari Sekar Komara Sunda, seni tradisional seperti karinding memiliki nilai-nilai edukasi dan harmonisasi. Karinding merupakan alat musik yang terbuat dari pelepah aren . Karinding dimainkan beberapa orang dengan nada berbeda-beda. Seperti halnya angklung, memainkan karinding harus harmonis antarpemain agar suara yang dihasilkan melaras. Makna kehidupan
Di samping nada, syair lagu yang biasa dinyanyikan ketika diiringi karinding pun memiliki makna kehidupan. Misalnya, lagu dengkleng dengdek, yang mengajarkan agar tidak merebut pasangan orang lain. Sayangnya, tidak banyak orang yang kenal karinding .
Satu hal yang seharusnya dilakukan agar seni karinding tetap bertahan adalah dengan memberi kesempatan senimannya tampil dalam berbagai kesempatan.
“Harus ada momen untuk mengapresiasi seni karinding ini. Caranya, dengan memberi kesempatan kepada senimannya tampil dalam berbagai acara,” kata Sule.
Dengan demikian, masyarakat mulai mengenal seni ini, sehingga tergugah untuk dapat memainkannya dan mengetahui lebih jauh tentang seni karinding ini.
Seniman karinding dari Cineam, Oyon Eno Raharjo, mengatakan, apabila masyarakat memberikan apresiasi atas seni karinding, itu akan memotivasi para pemain karinding untuk tidak meninggalkan seni tradisional ini.
Saat ini seniman karinding yang senior tinggal dua orang. Upaya regenerasi dilakukan setelah para seniman karinding kerap bermain dalam beberapa kesempatan.
“Saya sangat senang kalau bisa bermain karinding di depan orang banyak. Selama ini kami tidak pernah memainkan karinding di depan orang banyak, paling di rumah sendiri. Sekarang sudah ada dua siswa sekolah yang belajar,” ujar Oyon. (adh)
Sumber: Kompas.
Eep
August 21st, 2008 at 9:43 pm
<blockquote>”Bahkan, Pemkab Tasikmalaya baru mengetahui ada kesenian karinding setelah seniman karinding bermain dalam beberapa acara.”</blockquote>
Menyedihkan, Silokabudaya harus menangani masalah database sosial historik kesenian-kesenian Sunda.
Dhany Irfan
August 22nd, 2008 at 6:18 am
Dahulu kala, kalau tidak salah tahun 1999, kita Grup Kesenian KABUMI-UPI yang pertama mengadakan penelitian Karinding ke Desa Cineam-Tasikmalaya kerja sama dengan Disbudpar. Misinya adalah menghidupkan kembali Alat Musik yang hampir punah, dalam hal ini karinding. Kami datang dan bermalam di tempat karinding itu ada. Malam hari, kami mendengarkan cerita tentang asal muasal karinding dari Bah Karna (Alm) dan Pak Oyon. Besoknya, kami diajari membuat karinding. Cerita lengkapnya saudara Gianjar (Banon) yang bisa menguraikan, karena kalau tidak salah waktu itu beliau yang jadi ketua rombongan kami. Alhamdulillah, penelitian itu ada manfaatnya, minimal masyarakat bisa tau apa itu karinding. Di Jepang, saya berusaha menyebarkan info tentang karinding, diantaranya selalu mengikutsertakan karinding dalam pameran-pameran besar di Jepang.
Uloh
August 23rd, 2008 at 1:15 pm
Heuheuy deudeuh…..
Karinding…..
Dari segi alat musik dan suara yang dihasilkan sepertinya kemungkinan Karinding diangkat dalam satu pagelaran Tunggal (Hanya Karinding) sebagai “Kesenian Karinding” sangat kecil, namun ini bukan berarti tidak mungkin. Sekedar untuk perbandingan bisa kita ambil contoh Egg Shake Atau Castagnet, sekalipun alat tersebut dikenal banyak orang tetapi jarang kita mendengar pagelaran seni Egg Shake atau Pagelaran Seni Castagnet, Tetapi lebih merupakan pelengkap suasana/ornament pada satu karya. Pendek kata mengangkat Karinding sebagai suatu kesenian relatif lebih sulit karena karinding sendiri dalam pagelaran yang saya lihat sebelumnya tidak mempunyai peran yang cukup vokal dalam suatu pagelaran. Berbeda halnya dengan Kecapi dan beberapa alat musik lainya.
Satu Contoh yang bisa diambil dalam beberapa karya musik Samba Sunda, atau Jaipongan terdengar adanya bunyi instrumen karinding ini, tetapi hanya sebagi pelengkap penambah rasa dan suasana saja, tidak sebagai alat penghasil bunyi yang utama, Mudah-mudahan Kang Sule dari Tasik bisa lebih mengolah Karinding ini sehingga dalam suatu pagelaran penggunaan Karinding tidak sebatas alat musik pelengkap saja, sehingga akhirnya bisa dipresentasikan di depan pemerintah setempat sebagai bahan masukkan untuk bisa mempertimbangkan keberadaan Karinding sebagai suatu Kesenian
Dan untuk pemerintah setempat, sebelum mengangkat Kesenian Karinding sebagai suatu kesenian, yang tentu saja lengkap dengan pertanggungjawaban dan analisis dari segi teknis dan artistiknya, paling tidak mengangkat dan menempatkan Karinding sebagai Alat Musik Tradisional Asli Daerah itu saja sudah cukup, tentu saja dengan Sosialisasi dan pengenalan alat musik tersebut, bila itu saja tidak mampu,…
Kang Eep Siap-siap, Urang ambil alih jeung patenkeun ku kurang !!!
andicardian
April 6th, 2009 at 6:51 pm
Saya orang cineam. beberapawaktu yg lalu ada orang amerika yang mencari karinding dan saya tidak tahu itu. Akhirnya sekarang sayatahu…
asep muharam
April 23rd, 2009 at 11:55 am
sanagt disayangkan sekali, pemkab tasikmalaya kurang memperhatikan warisan tradisi leluhur yang menjadi aset budaya bangsa. karinding salah satu kesenian tradisi buhun yang hampir punah keberadaannya, untuk itu diharapkan kita yang merasa orang sunda setidaknya merasa terpanggil agar aset budaya bangsa ini tidak hilang ditelan jaman. Selain itu untuk para pejabat dinas budaya diharapkan ikut berperan aktif dalam melestarikan kesenian tersebut, yaitu dengan cara adanya penelitian khusus tentang karinding tersebut, jangan hanya diam di kantor saja makan gaji buta…….
heri
August 27th, 2009 at 2:43 pm
alhamdulillah kami digarut juga melestarikan seni karinding
almas aprilana
October 1st, 2009 at 2:49 pm
upami bade meser karinding di mana nya?punten tiasa nyuhunkeun alamatna.
moza
July 14th, 2010 at 9:09 pm
saya bru blajar krinding . ternyata karindingg itu mudah jugga dimainkan jika kita suddah mngerti
dan suara yg dihasilkanpun sangat enak untuk dinikmati
galih muhammad
July 29th, 2010 at 8:29 am
punten , hoyong terang meser karinding dimana nya ?