Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
SEBANYAK tiga puluh orang menandatangani manifesto. Mereka hadir dari beragam komunitas, yang ingin terlibat untuk menyelesaikan persoalan tentang sebuah babakan. Manifesto yang mereka tanda tangani sebagai penolakan terhadap rencana penggusuran Babakan Siliwangi.
Sebelumnya, puluhan anak-anak yang terbagi berbagai strata seperti murid sekolah menengah, home schooling, dan panti asuhan berkumpul di sekitar babakan yang rindang. Mereka mengunjungi beberapa petak rumah yang menjual lukisan. Tidak sekadar membeli, tetapi mereka belajar tentang lukisan. Salah satu semangat mereka adalah ingin pula bisa melukis di atas kanvas.
“Tempat ini memang menjadi tempat belajar anak-anak,” ujar Syarief Hidayat, Koordinator Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi.
Sanggar berada di kawasan seluas 38.214 m persegi. Kawasan yang dilewati Kali Cikapundung ini banyak ditumbuhi oleh tanaman-tanaman keras. Usia pohon-pohon itu lumayan tua dan ukurannya pun besar-besar.
Kawasan sanggar ini dekat dengan lapangan olah raga milik Sasana Budaya Ganesha ITB. Di kawasan ini pula sering ada adu tangguh domba-domba garut. Biasanya terjadi di hari minggu. “Dengan pepohonan dan suasana hijau kayak gini, memang agak susah menemukannya di tempat lain,” ujar Syarief. “Coba ada tempat yang seperti Ubud Bali di Bandung ini karena dari sini pula lahir seniman besar,” tambahnya.
Tempat yang ia sebut itu adalah salah satu lokasi di Kabupaten Gianyar, Bali. Ubud memang terkenal sebagai lokasi para seniman lukis dan craft (kerajinan tangan). Lokasinya terletak dekat kawasan persawahan yang terbangun dengan sistem terasering. Kawasan ini meledak sebagai kawasan seni sejak akhir tahun 1960-an. Di sini orang tidak sekadar belanja, tetapi bisa juga ikut belajar. Dan satu hal, tempat itu tidak pernah tergusur setelah sekian lama.
Kondisi yang berbeda dengan Babakan Siliwangi Bandung. Meski anggota SOS sebanyak 100 orang mendiami tempat ini, rencana penggusuran pun santer terdengar. Bahkan, sejak Mei lalu, perintah relokasi seniman ke pinggir jalan dekat Kebun Binatang Bandung.
Diresmikan pada tahun 1982 oleh Menteri Pariwisata Joop Ave, Babakan Siliwangi diperuntukkan sebagai sentral kehidupan seni rupa di kawasan Kota Bandung. Tanah dan bangunannya milik Pemerintah Kota Bandung dan seniman tinggal di sana tanpa ditarik retribusi sepeser pun. “Namun, kami tetap merawat tempat ini,” ujar Syarif lagi.
Pada 2004 tiba-tiba sebagian restoran yang berada dekat sanggar terbakar. Selang beberapa waktu, tiba-tiba sebuah perusahaan mengantongi izin pembangunan. Dengan dalih penataan kawasan Babakan Siliwangi, PT Esa Gemilang Indah (EGI) mengantongi kesepakatan dengan Pemerintah Kota Bandung.
“Tapi izin yang sudah keluar itu tidak jelas ingin membangun apa. Tidak disebutkan berapa luas dan seperti apa,” ujar Ridwan Kamil, seorang arsitek. Ia ikut duduk dalam lingkaran bersama puluhan orang lainnya yang khawatir Babakan Siliwangi tergusur.
Tiga puluh orang yang duduk melingkar di Babakan Siliwangi itu di antaranya ada seniman, aktivis lingkungan, jurnalis, dan mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa ITB. Dalam perbincangan itu dibahas beberapa hal untuk menolak pembangunan yang tidak mengarah pada kepentingan ekologis dan sosial.
“Kawasan ini kan punya nilai sejarah, lingkungan dan sosial yang tinggi, serta aktivitas seni yang tinggi. Selain itu, fungsinya juga seperti hutan kota,” ujar Tisna Sanjaya, seniman yang hadir pada pertemuan itu, Minggu (31/8).
Mempertahankan kehijauan Babakan Siliwangi seharusnya menjadi perhatian pemerintah kota. Sebagaimana diketahui, pemerintah kota menargetkan memiliki 30 persen areal lahan terbuka. Babakan Siliwangi pun harusnya menjadi salah satunya.***
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Sumber; Pikiran Rakyat
Mengapa Pusat Kegiatan Seniman Harus Selalu di Kota Bandung? | EepInside.Com
September 4th, 2008 at 7:46 am
[...] ini sedang hangat-hangatnya persoalan Babakan Siliwangi. Dikabarkan, sebuah pengembang di Bandung mengincar kawasan tersebut untuk mendirikan apartement. [...]
lolon
November 27th, 2008 at 8:30 am
wah kudu di retahankan itu kan jantung kota
Reza
December 10th, 2008 at 12:38 am
kita juga lagi ngebahas disini:
ngubek.com