Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
DIAKUI atau tidak, seni angklung diatonis-kromatis yang dikreasi oleh Daeng Soetiga sudah dikenal di berbagai pelosok dunia. Daeng Soetigna memperkenalkannya dalam acara berskala internasional pada jamuan makan malam Perjanjian Linggarjati, Kuningan, 1946.
Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya, seni angklung hanya diam di tempat. Itu terjadi, karena alat musik angklung diatonis-kromatis tersebut hanya difungsikan sebagai alat untuk memainkan karya musik yang sudah umum, baik karya musik para komposer dari dalam maupun luar negeri. Seni angklung akan menjadi lebih berwibawa bila dalam perjalanannya dipakai untuk memainkan komposisi-komposisi lagu baru, yang dicipta khusus untuk itu.
Kesimpulan tersebut mengemuka dalam acara diskusi “100 Tahun Daeng Soetiga”, Sabtu (20/12) di Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika Bandung. Diskusi menghadirkan seniman dan pakar karawitan Nano S., pemusik dan komposer Dwiki Dharmawan, penulis buku biografi Daeng Soetigna Tatang S. Sumarsono, komposer angklung Obby A.R. Wiramihardja, dan konsultan hukum R. Rizky A. Adiwilaga, S.H. dengan moderator Iwan Meulia Pirous.
Nano S. sependapat dengan Dwiki Dharmawan, tantangan keras para pemain angklung saat ini adalah menciptakan komposisi-komposisi khusus yang dimainkan dengan angklung, dan tidak lagi memainkan karya-karya musik yang sudah ada. “Kalau seni angklung tidak berkembang, ini disebabkan karena itu. Padahal dilihat dari alatnya, dengan seni angklung sangat memungkinkan lahirnya karya-karya baru,” ujar Dwiki.
Apa yang dikreasi oleh Daeng Soetigna dalam menciptakan angklung modern, menurut Nano, patut diacungi jempol. Selain itu, Daeng Soetigna sudah berhasil menciptakan bentuk-bentuk angklung yang baru, yang sebelumnya tidak ada. Lahirnya bentuk-bentuk angklung diatonis-kromatis itu pada satu sisi memberikan pengaruh pula pada lahirnya bentuk-bentuk angklung baru yang bertangga nada pentatonis yang berkembang pada tahun 1960-an, sebagaimana yang dikembangkan oleh Udjo Ngalagena setelah belajar ilmu titi-laras pada Pak Machyar.
Mengenai ketokohan Daeng Soetigna, Obby dan Tatang Sumarsono menyerukan agar generasi muda saat ini sadar diri dan sadar ruang bahwa apa yang dikreasi oleh Daeng Soetigna merupakan kekayaan budaya yang tidak bisa dianggap sepele. Untuk itu, harus dipelihara dengan baik, dan kalau perlu dikembangkan lagi baik segi permainannya maupun segi-segi lainnya, termasuk menciptakan komposisi musik yang khusus dimainkan oleh angklung.
Dalam kesempatan tersebut, R. Rizky A. Adiwilaga, S.H. berbicara tentang pentingnya memerhatikan nilai-nilai hukum yang dikandung dalam angklung Padaeng ketika akan didaftarkan hak ciptanya. “Persoalan ini butuh waktu yang cukup panjang untuk mengklarifikasinya, selain menelitinya lebih lanjut,” katanya.
Sayangnya, diskusi menarik seputar sejarah dan masa depan angklung tersebut tidak dihadiri pejabat penting di lingkungan pemerintahan, baik dari Pemkot Bandung maupun Pemprov Jawa Barat. “Bagaimana mereka (para pejabat-red.) bisa tahu dan memahami apa yang terjadi pada angklung, diundang saja mereka tidak datang. Kita sudah undang mereka, tetapi mana? Saya benar-benar kecewa,” ucap Obby berapi-api.
Tampil memukau
Meski tidak dihadiri pejabat daerah, para penerus dan pencinta angklung tetap menikmati sajian konser angklung yang digelar di tempat yang sama semalam. Para seniman angklung dari berbagai status sosial, beragam usia, profesi, dan latar belakang yang tergabung dalam Masyarakat Musik Angklung (MMA) mampu menyuguhkan permainan angklung yang memukau. Mereka memainkannya dalam berbagai warna dan harmonisasi irama, mulai dari pop, sunda, keroncong, dangdut, hingga klasik. Ratusan pengunjung yang memadati Gedung Merdeka tampak menikmati permainan apik dan ringan tersebut.
Nomor “Indonesia Raya” karya W.R. Supratman menjadi pembuka, “100 Tahun Padaeng”. Penonton sempat dibuat tercenung manakala dipersilakan untuk duduk kembali seusai “Indonesia Raya” diperdengarkan. Ketercenungan penonton beberapa saat kemudian berubah dengan aplaus.
Hal serupa kembali terulang saat Euis Komariah melantunkan tembang “Es Lilin”. Saat memainkan lagu karya Bi Mursih yang cukup melegenda dan banyak direkam ulang di negeri sakura seperti halnya tembang “Bengawan Solo” karya Gesang itu, suara angklung sesekali diselingi denting kecapi. Sementara itu, tembang “Rinduku Padamu” karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lain lagi. Irama pop melankolis yang disuguhkan mengawinkan komposisi permainan angklung dengan biola dan bas.
Berbeda dengan repertoar lain yang dimainkan, nomor-nomor yang biasanya favorit dalam konser seperti “Santorini” (Yani), “Li Biamo Ne Lieti Calici from La TraViatta” (Giuseppe Verdi), “Air for G String” (Johan Sebastian Bach), dan “Blue Danube Waltz”, dimainkan terasa kurang utuh. Demikian pula saat “Kopi Dangdut” dan “Volare” yang sebenarnya memiliki irama dengan tempo sedang cepat.
Peringatan “100 Tahun Padaeng” juga ditandai dengan pameran foto perjalanan Daeng Soetigna dari masa kecilnya hingga membuat angklung dan memperkenalkannya kepada anak kepanduan (Pramuka), juga sejumlah foto saat konser dan seusai konser. Kehadiran foto-foto tak pelak mengundang memori masa lalu beberapa tamu undangan yang juga murid Padaeng. (Soni Farid Maulana/Retno HY/”PR”)***
Sumber: Pikiran Rakyat
herman
April 24th, 2009 at 11:54 am
Saya kira bukan masalah sentuhan baru, sebab secara musikal angklung Daeng Sutigna sudah membuat pembaharuan dengan dapat mengalunkan lagu dari seluruh dunia baik tangga nada tradisional maupun tangga nada internasional.
Yang perlu dilakukan adalah sosialisasi masal yang terus menerus dilakukan lewat berbagai media, terutama TV.
Juga kepedulian para komposer seperti Dwiki, Adi MS, Gita Gotawa dll, untuk memasukan angklung dalam salah satu komposisnya dan selalu dilakukannya dalam acara pertunjukan di Indonesia maupun sewaktu mengikuti acara/festival di luar negri.
Pamerkan permainan ini dalam acara2 tertentu, di shoping compleks, Mall2, restoran, hotel2 secara kumpulan kecil untuk 1 hingga 4 pemain saja ( biar mudah murah sebagai sarana pengenalan)
Itulah yang sudah dan terus dilakukan oleh pemerintah Malaysia. Jadi jangan heran kalau rakyat Malaysia merasa memiliknya, begitu juga yang terjadi dengan Barongan dan Kuda kepang.