BANDUNG, (PR).-
Kegiatan Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Jawa Barat akan dihentikan mulai tahun 2009 ini. Sebagai penggantinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar kini sedang menggodok konsep kegiatan untuk mewadahi prestasi dan kreativitas pemuda Jabar.

“Tiap tahun pasanggiri moka diadakan, tetapi tidak pernah ada kelanjutannya. Makanya tahun ini dihentikan dulu. Padahal, selain di sektor pariwisata, mereka juga bisa diberdayakan untuk kegiatan lain, seperti menjadi duta bahasa dan duta UKM,” kata Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf seusai membuka pertemuan pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan DPD KNPI provinsi se-Indonesia, di Hotel Savoy Homann Bidakara, Jln. Asia Afrika Kota Bandung, Minggu (8/2).

Menurut Dede, para pemuda di Jabar tidak perlu berlomba-lomba mengikuti kegiatan moka, karena penyaluran kreativitas mereka tidak hanya selalu lewat ajang tersebut. Mengenai pengganti kegiatan Pasanggiri Moka, menurut Dede, hingga saat ini masih dikonsep. “Tunggu saja. Kalau disebutkan sekarang, tidak surprise lagi,” ujarnya.

Salah seorang Jajaka Pinilih Kota Bandung 2008 Bhawika Hikmat Prasetya menyambut baik penghentian sementara kegiatan Pasanggiri Moka. Menurut dia, saat ini alumni moka jumlahnya ratusan, tetapi tidak pernah diberdayakan.

“Selama ini, ibaratnya kami hanya jadi pajangan, bertugas kalau sedang ada tamu saja. Malah pada kegiatan yang berhubungan dengan promosi pariwisata tidak dilibatkan. Sebaiknya masa bakti moka tidak hanya satu tahun, jadi bisa diberdayakan oleh pemerintah,” katanya.

Menurut Bhawika, sebetulnya para alumni moka ingin sekali bertindak sebagai duta wisata, tetapi pengetahuan tentang wisata dan budaya Jabar yang diberikan saat karantina pasanggiri, sangat sedikit. Pada Januari lalu, para alumni moka sempat menyusun rancangan kegiatan untuk melakukan pelatihan bagi para moka, tetapi rencana ini tidak berlanjut. “Saya tidak tahu kenapa, terbentur masalah waktu juga, karena masing-masing punya kesibukan,” ujarnya.

Diubah

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar H. Herdiwan membenarkan bahwa untuk tahun 2009, kegiatan Pasanggiri Moka Jawa Barat ditiadakan. “Sebenarnya, kegiatan mojang dan jajaka bukan ditiadakan, hanya bentuk kegiatannya yang akan mengalami perubahan,” ujar Herdiwan.

Keputusan untuk menghentikan kegiatan itu, kata Herdiwan, diambil setelah menerima masukan dari sejumlah pihak, termasuk alumni moka. Masyarakat menilai kegiatan pasanggiri itu hanya kegiatan hura-hura dan penghamburan anggaran, sementara alumni moka mengeluh karena selama ini hanya bertugas sebatas penerima tamu pada acara seremonial pemerintahan.

“Oleh karena itu, kita sepakat untuk meniadakan kegiatan pasanggiri moka tahun ini. Anggaran untuk pasanggiri moka akan dialokasikan untuk pemberdayaan moka yang sudah ada, untuk mempromosikan pariwisata Jawa Barat,” katanya.

Kepala Subdinas Pariwisata Disparbud Jabar yang membawahi kegiatan pasanggiri moka, Wawan Irawan, mengatakan, tahun 2009 ini kegiatan yang diselenggarakan tidak memilih mojang atau jajaka seperti pemilihan ratu atau putri Indonesia yang selama ini diselenggarakan.

“Mulai tahun ini, kegiatan akan lebih dititikberatkan pada kemampuan berkesenian dan berwawasan kebudayaan. Selama ini yang ditonjolkan hanya wajah dan kecerdasan, sementara kemampuan berkesenian dan kebudayaan, terutama bahasa daerah sangat minim, bahkan tidak bisa sama sekali,” ujar Wawan.

Sementara itu, Taufik Hidayat yang beberapa kali dipercaya sebagai juri pada kegiatan pasanggiri moka, menilai pemberdayaan moka terpilih merupakan tanggung jawab pemerintah (Disparbud). “Selama ini pemerintah (Disparbud) sendiri kurang memberdayakannya, hingga akhirnya muncul anggapan bahwa pasanggiri hanya berupa euforia kontes atau pemilihan duta pemuda pemudi daerah,” ujarnya.

Seharusnya, kata Taufik, setelah terpilih, mereka dilibatkan dalam ajang promosi pariwisata Jabar di dalam maupun di luar negeri. (A-87/A-187)***