BANDUNG, (PR).-
Masyarakat Jawa Barat diharapkan tidak terpancing dengan pernyataan yang berkaitan dengan polemik tari jaipongan. Harmonisasi yang telah tercipta setelah dialog antara seniman Sunda dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sudah menjadi penutup yang baik dalam polemik pelarangan tentang jaipongan.

“Kalau masih ada yang berkomentar miring tentang jaipongan, berarti dia tidak paham tentang jaipongan. Masyarakat jangan terpengaruh,” tutur tokoh Sunda Tjetje Hidayat Padmadinata kepada “PR”, Selasa (10/2).

Ia menyarankan, siapa pun yang tidak memahami pokok permasalahan agar tidak membuat komentar terbuka di depan publik. Sebab, hal ini akan menjadi antiklimaks dari kesepahaman yang telah dicapai dalam dialog tempo hari.

Masyarakat pun sekarang tidak perlu khawatir lagi, jaipongan tetap bisa dinikmati oleh masyarakat. Tidak hanya Jabar, tetapi juga masyarakat dunia.

Sebelumnya, Ketua Dewan Kurator Yayasan Pusat Kebudayaan Uu Rukmana sempat kecewa dengan pernyataan salah satu tokoh nasional di Jakarta yang mengomentari polemik jaipongan. “Saya kecewa kalau jaipongan itu dianggap punya citra buruk,” katanya.

Menurut dia, jaipongan merupakan wujud kreasi seni Jabar yang mengolaborasikan berbagai tarian sehingga melahirkan tarian jaipongan yang kini menjadi ikon Jabar. Jaipongan bahkan dipentaskan hingga ke luar negeri.

“Saya terkejut setelah ada dialog yang sudah harmonis itu, saya masih mendengar ada pernyataan miring tentang jaipongan,” ujar Uu.

Ia mengimbau, siapa pun yang tidak tahu seluk-beluk jaipongan agar tidak memberikan komentar apa-apa sebab akan merusak kondisi yang sudah harmonis ini. Setiap orang hendaknya menghormati budaya yang berkembang di masyarakat. Sebagaimana amanat UUD 1945, puncak budaya daerahlah yang menjadi budaya nasional. (A-170)***

Sumber: Pikiran Rakyat