Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
Keindahan itu tak seperti aslinya. Begitu paling tidak kalimat yang bisa menggambarkan kondisi karya seni di Jawa Barat (Jabar). Siapa sangka, di balik eksotisme penari jaipong, keharmonisan ketukan angklung, dan indahnya puisi Sunda, seniman di Jabar masih merintih. Apresiasi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan keindahan seni yang mereka berikan.
Menghargai seni bisa diartikan memberikan ruang yang layak bagi seni untuk terus dikaryakan dan diekspresikan. Jabar memiliki tiga ratus jenis kesenian. Faktanya, masyarakat –khususnya pemangku kepentingan di Jabar– belum semuanya terbuka dengan hal itu. Seni semakin dinilai sebagai hiburan an sich.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Herdiwan menilai, langkah-langkah yang ditempuh Pemerintah Jabar selama ini belum sepenuhnya menyentuh wilayah apresiasi. ”Pentas tari ke luar negeri memang ada, tetapi menurut saya itu orang yang mau berseni dengan dibayar. Seharusnya, APBD diberikan kepada pelaku seni yang mengembangkan seni karena kecintaan dan mereka kebanyakan berada di pelosok daerah,” tuturnya.
Bagi Herdiwan, apresiasi juga merupakan kunci regenerasi yang sehat. Lemahnya regenerasi sejauh ini masih menjadi persoalan kesenian di Jabar. Menguatnya regenerasi melalui apresiasi, paling tidak, dibuktikannya setelah mengadakan pergelaran di Soreang, Kabupaten Bandung, dua bulan setelah menjabat sebagai kepala dinas. ”Waktu itu pemainnya tua-tua. Lalu pada akhir tahun untuk kilas balik atau enam bulan setelah pergelaran itu, ternyata ada empat pemuda yang datang ke tempat latihan. Ketika ditanya, ternyata karena mereka melihat karya orang tua mereka ditanggap. Artinya dihargai,” katanya.
Berbasis kepada apresiasi itulah Herdiwan merumuskan tiga hal sebagai upaya pengembangan dan pelestarian produk-produk kesenian di Jabar, yaitu membangun padepokan seni di lima belas titik, mewadahi ekspresi seni dalam festival rutin, dan memperluas kriteria penghargaan kesenian. Mampukah Herdiwan membuat kondisi kesenian Jabar lebih baik?
Bisa dijelaskan tentang program Anda?
Kalau bisa kita analogikan, mengapresiasi kesenian seperti menyiapkan dapur dan meja makan. Menyiapkan dapur yaitu memfasilitasi para pelaku seni dalam berkarya, mengembangkannya, dan menemukan kreasi baru. Ketika yang dari dapur itu sudah siap, kita sediakan meja makannya, yaitu sebuah ajang bagi mereka untuk mengekspresikan karya.
Sebagai ”dapur”, saat ini tengah dibangun lima belas padepokan seni atas bantuan gubernur senilai Rp 3 miliar. Pemilihan lokasi pembangunan diprioritaskan bagi mereka yang menghargai seni dengan rasa cinta dan yang dapat mengungkit minat masyarakat sekitar terhadap seni.
Padepokan dibangun di Kota Depok, Kabupaten Karawang, Subang, Cianjur, Sukabumi, Banjar, Cirebon, Sumedang, Kuningan, Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut dua buah, Bekasi, dan Cihideung Kabupaten Bandung Barat.
Sementara ”meja makannya”, kami tengah menyiapkan festival pada 2010 ini, yaitu World Ethnic Festival, International Congress World Ethnic, dan Indigenous of Culture of West Java di Monumen Juang (monumen perjuangan) Bandung. Indigenous ini akan dimotori oleh sekolah-sekolah seni dengan mengangkat satu alur cerita dari berbagai kesenian. Semua seniman, khususnya dari lima belas padepokan, bisa tampil dimotori oleh sekolah-sekolah yang berhubungan dengan seni.
Selain itu, budaya lain seperti kuliner, kriya, batik, dan yang berhubungan dengan asal seni setiap daerah akan ditampilkan. Rencananya setelah April hingga akhir tahun dengan dana Rp 800 juta. Ini akan jadi agenda tahunan.
Tahun ini pun akan dibangun dua gedung kesenian di Karangkamulyan di perbatasan Kota Ciamis-Banjar dan Bogor. Satu lagi adalah award (penghargaan). Pada 2009 memang sudah diberikan, tetapi kriterianya terlalu sempit. Selama ini yang dihargai pelakunya saja seperti penari. Siapa yang menghargai tukang gong atau tukang kendang. Itu yang akan diperluas.
Mengapa mengangkat dua festival internasional?
World Ethnic Festival untuk mengangkat kesenian Sunda secara internasional. Sementara International Congress World Ethnic itu untuk membahas seperti apa sebenarnya budaya Sunda, baik dari kaca mata pakar dalam maupun luar negeri. Tidak bisa dimungkiri, orang-orang kalau belajar tentang kebudayaan sunda ke Leiden, Belanda.
Saya sudah data sepuluh negara adidaya yang punya komunitas Sunda, tetapi bukan terdiri atas orang-orang Indonesia. Negara itu antara lain Jepang, Korea, Australia, dan Amerika Serikat.
Bagaimana dengan akses dana yang masih menjadi keluhan seniman?
APBD itu stimulan, kami adalah fasilitator. Ketika ada sandiwara tingkat RW yang minta dana ke gubernur, itu sudah tidak sehat. Maka, kriteria pemberian bantuan adalah atas dasar prestasi apa yang pernah dia (seniman) raih, lebih diutamakan festival lintas kabupaten/kota daripada pergelaran tunggal, dan acara festival itu sudah tumbuh. Jadi, bukan karena ada uang pergelaran itu diadakan.
Setahun, kami menerima delapan ratus proposal. Sementara dana untuk bantuan pergelaran itu pada 2008 Rp 2 miliar dan pada 2009 Rp 1,2 miliar. Untuk 2010 belum tahu karena wewenang ada di Gedung Sate dan besarnya bergantung kebijakan gubernur. Untuk itu, proposal harus diseleksi. Seharusnya money follow function tetapi di kita justru sebaliknya. (Amaliya/”PR”)***
Leave a reply