Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
Keberlangsungan hidup berkesenian dewasa ini tidak terlepas dari peran kalangan akademisi, utamanya di perguruan tinggi seni. Perguruan tinggi seni menjalankan tugasnya sebagai wadah konservasi, pengembangan kreativitas seni, sekaligus menggali setiap kemungkinan yang membuatnya lebih kaya.
Salah satu tokoh yang tepat untuk diajak memperbincangkan tema ini adalah Fransiscus Xaverius Widaryanto. Menguasai tari dan gamelan Jawa, Mas Wid — begitu dia akrab disapa– kini dipercaya sebagai Sekretaris Forum Guru Besar dan Empu Seni. Forum ini merupakan think tank para pakar dan pelaku seni yang dipercaya memberikan masukan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dalam pengolahan kurikulum kesenian.
Akhir pekan lalu, “PR” mewawancarai dosen Kritik Tari dan Estetika Tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu. Berikut petikan wawancaranya:
Menurut Anda, ada persoalan dalam kehidupan berkesenian di Indonesia secara luas atau Jawa Barat khususnya?
Saya kira, gejala umum yang sekarang terjadi adalah kesenian diperlakukan sebagai komoditas belaka. Artinya, kesenian dipertontonkan tanpa melibatkan keseluruhan hakikatnya. Pentas-pentas ke luar negeri, saya rasa, juga kerap jatuh menjadi proses komodifikasi semacam ini. Hal sama terjadi dengan pendekatan model projek, seperti membangun gedung-gedung kesenian. Saya rasa, kunci memelihara hidup berkesenian bukan dengan cara-cara semacam itu. Yang paling pokok adalah menggali keberdayaan para pelaku seni. Peningkatan frekuensi tampilan seniman penting. Jika hal ini terjaga, ujung-ujungnya nanti akan tumbuh kebanggaan sehingga pewarisan kesenian tidak lagi menjadi masalah.
Banyak kalangan menuding kemajuan teknologi sebagai salah satu penyebab kemunduran kesenian. Pendapat Anda?
Saya kira tidak tepat mempertentangkan kesenian dengan teknologi. Teknologi justru memberi ruang kepada kesenian untuk berkembang. Ini sesuatu yang tak terhindarkan. Tidak jarang, berkat teknologi, muncul produk-produk baru yang tak terbayangkan sebelumnya.
Dalam usaha pemeliharaan dan pengembangan kesenian, di mana letak peran perguruan tinggi seni?
Perguruan tinggi harus dapat menjadi konservatorium. Mereka menyimpan karya. Banyak hasil kesenian yang telah punah dan tak tercatat. Ini amat disayangkan. Menjadi tugas perguruan tinggi seni untuk membuat kajian selengkap mungkin sehingga masyarakat dapat mengapresiasi dan mempelajari. Tidak hanya seni tradisional yang lawas, tetapi juga produk seni yang baru tumbuh. Pada saat bersamaan, perguruan tinggi seni bertugas mengembangkan produk-produk kesenian tersebut lewat kurikulum yang ada.
Apakah sejauh ini perguruan tinggi telah menjalankan perannya dengan baik?
Harus diakui, kurikulum perguruan tinggi kerap terlambat menangkap perkembangan kesenian di masyarakat. Seni grafis dan film pendek, misalnya, tumbuh di mana-mana sedemikian cepat. Akan tetapi, kurikulum di perguruan tinggi belum siap. Disiplin ilmu masih terkotak-kotak. Ini salah satu permasalahan yang mesti segera diperbaiki.
Anda tergabung dalam Forum Guru Besar dan Empu Seni. Apa yang sekarang sedang dikerjakan forum ini?
Saat ini, kami sedang menggali metodologi penciptaan karya seni di kalangan seniman besar. Metodologi ini diharapkan dapat menjadi semacam pegangan untuk mempelajari proses kreatif para empu dari seluruh Nusantara. (Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR”)***
Leave a reply