Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berakar pada Seni dan Budaya
PERAJIN membuat angklung di Saung Angklung Udjo (SAU), Jln. Padasuka Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Permintaan pasar akan angklung cukup tinggi. Untuk pasar luar negeri saja, permintaan mencapai 15.000 buah angklung dan 500 unit angklung sedangkan potensi lokal bisa mencapai 90.000 unit.* ADE BAYU INDRA
ANGKLUNG sebagai simbol kesenian musik Sunda ternyata memiliki potensi untuk dijadikan produk industri, tidak hanya untuk pasar lokal tetapi juga ekspor. Apalagi permintaan produk ini sangat besar, untuk pasar luar negeri permintaan bisa mencapai 15.000 buah angklung dan 500 unit angklung. Sedangkan potensi lokal bisa mencapai lebih dari 90.000 unit, 12.000 unit di antaranya untuk Kota Bandung.
“Saat ini kami tidak mampu memenuhi permintaan itu, karena kami hanya bisa memproduksi 15.000 buah angkung setiap bulannya yang dipasarkan ke dalam negeri maupun luar negeri,” tutur Direktur Operasional Saung Angklung Udjo, Satria Yanuar Akbar di Saung Angklung Udjo, Jln. Padasuka, Bandung, Selasa (5/8).
Dr. Omman, “Naskah Kuno di Luar Negeri Lebih Baik”
BANDUNG, (PR).-
Hasil kajian filolog terhadap naskah kuno Nusantara harus didukung disiplin ilmu lain. Hal itu penting karena isi teks naskah sebagai hasil pola pikir masyarakat masa lalu sesungguhnya mengandung banyak hal kontekstual yang dapat dimanfaatkan masyarakat masa kini.
Contohnya, hasil kajian naskah kuno yang berisi tentang fitoterapi harus didukung disiplin ilmu kedokteran. Sehingga, khazanah obat-obatan tradisional masa lalu yang disampaikan dalam naskah kuno dapat digunakan dunia kedokteran dan obat-obatan masa kini. Itulah salah satu hasil rekomendasi Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) XII di Saung Angklung Udjo yang ditutup Rabu (6/8) malam.
Dalam rekomendasinya, para filolog juga sepakat untuk menghidupkan kembali aksara daerah. Mengingat bahasa daerah merupakan bahasa yang digunakan dalam naskah kuno Nusantara. Bahasa daerah ini meliputi bahasa Sunda, Jawa, Bali, Madura, Bugis, Melayu, dan lainnya.
TASIKMALAYA, (PR).-
Para perajin bordir mengeluhkan terhambatnya proses pengiriman produk kerajinan mereka dari daerah Tasikmalaya ke Pasar Tanah Abang, Jakarta. Hal itu karena mobil berpelat hitam yang biasa mereka gunakan untuk membawa bordir ke Jakarta, banyak yang dihentikan dan dirazia petugas dari Polda Jabar, karena dinilai melanggar ketentuan.
Padahal, perajin bordir Tasikmalaya sudah belasan tahun mengirimkan hasil kerajinan mereka dengan menggunakan mobil pribadi minibus, untuk menghemat biaya angkutan. Namun saat ini, hal itu tidak dilakukan, karena dianggap pelanggaran. Untuk mengangkut produk kerajinan itu, aparat mengharuskan para perajin menggunakan mobil angkutan berpelat kuning.
BANDUNG, (PR).-
Menteri Negara Koperasi dan UKM, Suryadharma Ali, menegaskan, pelestarian dan pengembangan seni budaya yang ditunjang dengan kriya sulit berkembang akibat terbentur pendanaan. Cara pandang masyarakat terhadap seni kriya berbasis seni budaya juga menjadikan regenerasi terhadap budaya asli berjalan di tempat.
“Selain dana sebagai penunjang utama seni budaya, juga karena kita kurang peduli terhadap seni budaya asli Indonesia,” ujarnya, dalam perbincangan dengan peserta “Awi-awi Mandiri 2008″, di halaman belakang Saung Angklung Udjo, Jln. Padasuka Bandung, Selasa (5/8).
Di hadapan peserta yang terdiri atas seniman, budayawan, perajin kriya bambu, serta perwakilan mahasiswa 10 perguruan tinggi di Kota Bandung, Suryadharma berharap para pelaku seni memanfaatkan pinjaman lunak dari bank pemerintah atau bank yang ditunjuk. “Penggunaannya tentu untuk pengembangan usaha, bukan untuk kepentingan lain yang tidak ada hubungannya dengan seni budaya maupun usaha kriya,” tuturnya. Read the rest of this entry »
BANDUNG, (PR).-
Pemerintah daerah merupakan institusi yang harus bertanggung jawab terhadap segala potensi dan kekayaan daerahnya. Termasuk, potensi dan kekayaan naskah kuno yang terdapat di daerah tersebut.
“Jadi, kalau Pemkot Cirebon tidak bisa menyelamatkan naskah kuno itu, pemerintahh provinsilah yang harus bertanggung jawab dan membeli naskah itu,” ujar Rektor Unpad Ganjar Kurnia saat dimintai komentarnya tentang kepastian nasib 500 naskah kuno asal Cirebon yang akan dijual kepada Malaysia, Selasa (5/8).
Menurut dia, Unpad berkepentingan dengan naskah tersebut. Terutama untuk penelitian isi naskah. Namun demikian, Unpad tidak mau menyalahi kompetensi pemerintah selaku penanggung jawab. Lagi pula, Unpad belum siap dengan pemeliharaan naskah.
“Kalau pemerintah kan sudah ada museum. Selain itu, jumlah nominalnya juga tidak banyak bila dibandingkan dengan kekayaan isi yang terkandung di dalamnya,” ujarnya. Read the rest of this entry »
Last Comment